Mendahulukan Bayar Puasa atau Puasa Syawal?



SOFTWARE ZAKAT IZZAWEB – Bulan suci Ramadan sudah berlalu. Selanjutnya adalah bulan Syawal, dimana tetap dapat melanjutkan ibadah dengan pahala tak kalah berlipat. Salah satu di antaranya yakni dengan puasa Syawal. Allah SWT nyatanya menaruh keutamaan besar bagi hambanya yang melakukan puasa di bulan Syawal. Bahkan, sebuah hadis juga menyebutkan siapapun yang mengamalkan ibadah tersebut, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.

Meski begitu, bagi yang tidak mampu berpuasa pada bulan Ramadhan yang lalu karena alasan tertentu wajib hukumnya untuk dapat segera mengganti puasa yang telah ditinggalkan. Mengganti puasa Ramadhan disebut juga meng-qadha puasa, yakni seseorang harus mengganti puasa Ramadhan karena sakit yang tidak permanen, melakukan perjalanan jauh, sengaja berbuka, dan sebagainya. Akan tetapi, saat bulan Syawal datang, banyak yang ingin melaksanakan puasa Syawal. Bagaimana jika masih memiliki utang puasa?

Menurut Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas, sebaiknya bagi yang memiliki utang puasa, utang tersebut diganti terlebih dahulu. “Meng-qadha puasa didahulukan baru puasa Syawal,” kata Anwar. Anwar menjelaskan, hal itu dikarenakan puasa Ramadhan hukumnya wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. “Bila berbenturan antara yang wajib dengan yang sunnah maka yang didahulukan adalah yang wajib,” ujar Anwar. Anwar juga mengatakan perlu diusahakan keduanya tetap bisa dikerjakan. “Untuk itu, perlu diusahakan meng-qadha-nya tuntas dan puasa 6 hari di bulan Syawal juga terkerjakan,” pungkas Anwar.

Aplikasi Galang Dana

Aplikasi Keuangan Lazis

Seperti yang dikatakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas, perlu pahami terlebih dahulu bahwa hukum puasa qadha adalah wajib bagi setiap Muslim. Artinya, puasa ganti yang bila mana dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan akan terhitung sebagai dosa. Hal tersebut juga telah disampaikan Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 184. Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan sejumlah kelompok orang yang wajib mengganti puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadan.

 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dalam konteks ini, perempuan yang haid, hamil, nifas, dan menyusui juga wajib mengganti puasa mereka di hari. Selain itu, puasa qadha juga memiliki rukun dan syarat yang sama dengan puasa Ramadan. Begtiu banyak pendapat terkait mendahulukan puasa Ramadhan atau men-qadha puasa terlebih dahulu. Intinya,  jika seseorang tidak dapat berpuasa di bulan Ramadan karena ada udzur, misalnya karena sakit atau karena haid, maka dia boleh langsung berpuasa enam hari di  bulan Syawal. Tidak masalah baginya langsung berpuasa Syawal, meskipun dia belum bayar hutang puasa Ramadan. Hal ini karena seseorang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan sebab ada udzur tidak wajib segera bayar hutang puasa Ramadan di bulan-bulan selain bulan Syawal. Sehingga meskipun dia tidak bayar hutang puasa Ramadan di bulan Syawal, maka hukumnya tidak berdosa dan dia boleh langsung berpuasa Syawal.

Aplikasi Galang Dana

Aplikasi Keuangan Lazis

Related Posts

Home
WA Admin
Paket